“Kami fokus pada pengembangan industri keuangan syariah yang lebih ritel. Alasan dibalik strategi ini karena punya lembaga keuangan syariah lebih banyak di pasar konsumen di kawasan ini. Ada karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, karena eksistensi Indonesia dan keragaman budayanya, maka perlu mempertimbangkan pendekatan strategis,” ujar Nelson.

Dalam konteks tersebut ada sejumlah isu strategis yang harus diatasi untuk pengembangan menuju keuangan syariah yang sukses di Indonesia. Yaitu, sinergi antara otoritas, pemerintah dan pelaku industri, permodalan yang terbatas sehingga berpengaruh pada efisiensi, biaya dana yang tinggi, pemahaman publik yang masih rendah, dan pengawasan regulator yang belum optimal.

“Dari isu ini kami membuat Roadmap Perbankan Syariah 2015-2019 yang menyediakan panduan termasuk inisiatif untuk industri perbankan syariah Indonesia agar terus maju. Rencana strategis perbankan syariah ini dimasukkan dalam Roadmap Perbankan Syariah yang memuat tujuh arah kebijakan,” cetus Nelson.

Ia menuturkan kendati pertumbuhan perbankan syariah Indonesia tertinggi dibanding negara lainnya seperti Arab Saudi, Malaysia, Turki dan Uni Emirat Arab, kontribusi bank syariah masih kecil dibanding perbankan syariah di negara lain. “Ini terlihat dari pangsa pasar dan rasio dengan produk domestik bruto yang masih kecil,” tukasnya.

Walau demikian, ia mengakui potensi bank syariah Indonesia masih substansial. “Indonesia adalah negara dengan populasi mayoritas muslim dan sumber daya alam melimpah. Perbankan syariah Indonesia punya potensi untuk berkontribusi lebih signifikan bagi perekonomian, termasuk pengembangan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan,” pungkas Nelson.

sumber: mysharing.co