• Link Registrasi

  • Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.

OJK: Tantangan Bank Syariah dari SDM Hingga Regulasi

image

JAKARTA — Setelah tumbuh pesat dengan rata-rata 40 persen selama kurun waktu 2009-2013, industri perbankan syariah di Tanah Air menghadapi kelesuan. Bak karet yang ditarik maksimum, daya regang perbankan syariah menunjukkan penurunan pada 2014 dengan angka pertumbuhan sebesar 12,4 persen.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pertumbuhan perbankan syariah pada 2015 cenderung turun dari 11,39 persen pada Maret menjadi 7,89 persen pada Juli. Per Juli 2015, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan bank syariah turun 11,21 persen dan 5,55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, nilai pembiayaan macet (NPF) meningkat menjadi 4,89 persen, bahkan pernah menyentuh lima persen pada Februari 2015.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan 1 OJK Mulya E Siregar mengungkapkan, industri perbankan syariah menghadapi persoalan eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ekonomi eksternal, pemahaman masyarakat, peran pemangku kepentingan, dan isu global memengaruhi industri ini.

Namun, perbankan syariah menghadapi persoalan internal pada kurangnya daya saing. Ini tercermin dari bisnis yang belum efisien, kualitas layanan, kuantitas dan kualitas SDM yang belum mencukupi, fasilitas TI yang belum memadai. Padahal, Indonesia segera menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

”Mungkin perbankan syariah terlena dengan pertumbuhan yang cepat, buka cabang banyak dan cepat sementara SDM tidak mengimbangi. Saya sudah memperingatkan soal itu,” kata Mulya dalam acara penganugerahan pelaku industri perbankan syariah beberapa waktu lalu.

Ketua Asosiasi Perbankan Syarian Indonesia (Asbisindo) Bidang Hubungan Antar Lembaga Benny Witjaksono mengatakan, terkait SDM industri perbankan syariah, dalam tiga tahun belakangan, pasokan dan permintaannya luar biasa. Menurutnya, bankir-bankir konvensional yang ‘mahal’ akhirnya ada yang bersedia pindah ke syariah.

Akan tetapi, diakui Benny, performa mereka belum sesuai ekspektasi. Ke depan, ia berharap, industri tidak bisa hanya mengandalkan pola seperti. Harus ada penambahan jumlah bankir-bankir syariah dari dalam industri sendiri.

”Program studi ekonomi syariah memang banyak. Tapi kami terkendala pada kecocokan kualifikasi yang dibutuhkan industri dan softskill. Kami akan membahas kurikulum prodi ekonomi syariah agar bisa memasukkan konten industri dan softskill,” tutur Benny.

Sumber: Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: