• Link Registrasi

  • Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.

Gathering dan Diskusi Bulanan Ekonomi Syariah

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma menyelenggarakan event perdana “Gathering dan Diskusi Bulanan Ekonomi Syariah”. Acara berlangsung pada hari Sabtu, 17 Oktober 2015 pukul 12.00-17.00 WIB di Auditorium D462, Universitas Gunadarma, Depok.

Gathering merupakan acara yang diselenggarakan dengan tujuan mengenalkan Sharia Economic Forum kepada para mahasiswa-mahasiswi baru Universitas Gunadarma. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC yang dibawakan oleh Fauziah. Kemudian dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an dan sari tilawah dengan berbagai bahasa oleh M. Bifa Rizky (Arab), Iren Karina (Jerman), Siti Nurfitana (Inggris), dan Wulan Ratna Dewi (Indonesia). Kemudian dilanjutkan  dengan sambutan-sambutan.

Sambutan Ketua SEFSambutan pertama disampaikan oleh Rivaldi Samah selaku Ketua Sharia Economic Forum masa amanah 2015/2016. Beliau mengatakan bahwa seorang mahasiswa harus berani mengaktualisasikan diri dan meningkatkan potensi diri baik dalam kampus maupun diluar kampus. Sebagai mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang luar biasa bukan hanya sekedar mahasiswa biasa pada umumnya. Mahasiswa yang luar biasa tentu memiliki relasi yang luas, mempunyai inisiatif yang tinggi, dan aktif dalam segala kegiatan. Salah satu cara mencapai itu semua adalah dengan berorganisasi. Dengan berorganisasi kita bisa meningkatkan kualitas diri kita untuk menjadi yang lebih baik.

Kemudian sambutan kedua oleh Ready Rachmat Putra selaku Presiden BEM Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma masa periode 2015/2016. Beliau berharap acara ini dapat berjalan dengan sukses dan jadikan acara ini sebagai ajang para peserta untuk mencari ilmu mengenai Ekonomi Islam yang lebih mendalam.

Selanjutnya sambutan olehSambutan oleh Pak Misdiyono Bapak Misdiyono, SE., MM., selaku Wakil Sekretariat Rektor sekaligus membuka acara Gathering ini secara resmi. Beliau mengatakan bahwa kita harus menghargai waktu. Orang yang berhasil bisa menghargai waktunya dengan baik. Beliau berbagi mengenai pengetahuannya tentang Studi of Islamic Theory yang menerapkan sistem pendapatan. Sistem ini menerapkan bahwa pendapatan berasal dari zakat, kharaj, dan jizyah. Nabi Muhammad merupakan orang pertama yang menerapkan sistem pendapatan ini. Beliau juga sangat bangga dengan Sharia Economic Forum sebagai organisasi internal kampus yang selalu menyelenggarakan acara dengan tertata rapih. Beliau mengharapkan UKM lainnya bisa mengikuti jejak SEF dan segera menjadi yang terbaik.

Sebelum memulai acara inti, acara diisi dengan hiburan musikalisasi puisi oleh Mipta Faujiah, Rofi Rosdiani, Raudatul Munawarah, Dewi Novitasari dan Farah Ulfah.

Acara intipun dimulai yaitu sharing-sharing bersama alumni Sharia Economic Forum. Acara sharing-sharing pun dibuka oleh pembicara pertama sekaligus moderator yaitu Ahmad Husin. Beliau adalah Ketua Sharia Economic Forum periode 2014/2015 dan sekarang sudah menjadi pegawai internship di Otoritas Jasa Keuangan serta menjadi pengajar Bahasa Inggris di Medinat English Club (Lembaga Kursus yang dipelopori oleh Sharia Economic Forum). Tema yang diangkat oleh beliau adalah tentang kepemudaan. Idealnya seorang mahasiswa adalah pemuda. Seorang pemuda harus memiliki kekuatan moral dan social control. Ketika baru memasuki dunia kampus masih asing dihadapan kita. Di SEF kita diajarkan untuk menjadi pemuda yang sehat. Pemuda yang sehat adalah pemuda yang sadar akan sakitnya dunia ini. Kemiskinan, krisis silih berganti, kriminalitas, dan keterbelakangan adalah ciri-ciri dimana bahwa dunia ini sedang sakit. Pemuda harus tahu apa yang harus dilakukannya, berkepribadian tinggi , akhlakul karimah, dan selalu  berusaha memperbaiki dirinya dari waktu ke waktu. Seorang pemuda harus menjadi pengaruh bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam Al-qur’an pun dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila tidak mengubah dirinya sendiri.

Foto bersama alumni SEF

Pembicara kedua adalah Nur Azifah. Beliau telah lulus dari pendidikan S2-nya di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude yang Insya Allah akan melanjutkan studi S3-nya di Durham University, United Kingdom. Sekarang beliau menjadi Dosen di Universitas Gunadarma. Beliau berbagi tentang kisi-kisi Study Abroad atau kuliah di Luar negeri. Sebagai mahasiswa tidak ada hal yang tidak mungkin asalkan kita mau berusaha keras untuk mencapai hal tersebut. Imam Syafi’i mengatakan “Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang”. Tunjukkan bahwa kita peduli dengan negeri ini karena kita pergi untuk kembali membangun Indonesia yang lebih baik, karena mahasiswa adalah Agent of Change. Dengan melanjutkan studi di luar negeri tentu akan memberikan pengalaman berharga,belajar ilmu baru, mendapatkan sistem pendidikan yang lebih baik, dan memiliki perspektif baru dalam memandang kehidupan. Prospek kerja tentu juga sangat besar mengingat lulusan luar negeri biasanya lebih berkualitas dan dijamin keilmuannya. Persiapan untuk mendapatkan ini semua tentu tidaklah mudah, butuh proses yang cukup panjang. Intinya kita harus meningkatkan kemampuan dalam bahasa inggris karena bahasa adalah hal terpenting untuk berkomunikasi dengan orang luar. Kemudian melakukan survey, to-do list, dan mencari beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, Pemerintah Luar negeri, Lembaga Perbankan, atau Universitas di Luar Negeri itu sendiri. IPK minimal untuk melanjutkan studi adalah 3,00 dengan Toefl 550 atau IELTS 6,5. Pesannya adalah teruslah mengejar mimpi dan jangan pernah berkata lelah karena mereka yang berhasil adalah mereka yang bekerja keras selagi yang lain masih tertidur.

Pembicara ketiga yaitu Santoso Permadi, lulusan Universitas Gunadarma jurusan Akuntansi dan sekarang sudah bekerja di IAEI (Ikatan Akuntansi Ekonomi Islam) bidang public relations. Beliau membahas tentang bagaimana caranya memperluas relasi. Hal menarik terjadi ketika Beliau memperlihatkan selembar uang kertas 20.000 dan mempersilakan bagi para peserta yang mau untuk maju kedepan dan mengambil uangnya. Dan akhirnya ada satu peserta yang berani mengambil uang tersebut. Hal ini memberikan pelajaran bahwa kita masih berada dalam zona nyaman atau zona ketakutan. Sebagai mahasiswa belum berani merasakan keberanian itu sendiri. Itulah kebiasaan yang harus kita hilangkan dalam diri. Banyak dari kita ketika ditanyakan apa mimpinya tidak mampu menjawabnya secara detail. Mempunyai gambaran visi yang jelas maka arah hidup akan lebih terarah. Jika kita berusaha untuk mempersiapkan segala sesuatunya maka akan mendatangkan kesempatan.

0b

Pembicara yang terakhir adalah Mufid Suryani, Dosen Universitas Gunadarma dan telah berpengalaman dalam dunia bisnis. Tips dalam memulai bisnis yaitu lebih realistis, hargai waktu, aktif, rekrut karyawan dengan baik, dan ketahui angka dasar. Ingin memulai usaha jangan menginvesatasikan uangnya sendiri. Ibarat  satu orang adalah lidi, maka jika disatukan menjadi banyak akan lebih sulit dipatahkan. Pikirkanlah dari awal bentuk usaha apa yang ingin dikembangkan. Gunakanlah teknologi baru dengan memanfaatkan social media dan perlakukanlah vendor dengan baik. Cintailah bisnis kalian yaitu berdasarkan dengan hobi bukan berdasarkan yang sedang maju saat ini. Tidak ada yang tidak mungkin bagi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang luar biasa bukan menjadi sampah masyarakat.

Acara ini diakhiri dengan perkenalan oleh seluruh Stakeholder Sharia Economic Forum yaitu Badan Pengurus Harian dan Anggota Muda Sharia Economic Forum masa amanah 2015/2016.

Diskusi Bulanan, Aktualisasi Ekonomi Syariah

Pemateri Diskusi Bulanan

Acara yang diselenggarakan setelah Gathering SEF ini merupakan acara perdana diskusi Aktualisasi Ekonomi Syariah yang diadakan setiap bulan. Tema yang diangkat membahas mengenai “Urgensi Ekonomi Islam”. Acara dimulai pukul 15.30 dan dibuka MC yang dibawakan oleh Fauziah.

Acara ini dimoderatori oleh Hilmi Fabriansyah yang sekarang menjabat sebagai Koordinator Divisi Keuangan dengan membacakan profil dan motto hidup para pemateri diskusi terlebih dahulu. Pemateri pada kesempatan perdana ini diantaranya adalah Abdul Roqqib, M.Bifa Rizky, Eko Aji Saputra, M. Nadlir Abdul Jabbar, dan M. Romy Aztamara Azis.

2Pembicara pertama yaitu Abdul Roqqib mengupas masalah tentang currency war atau penurunan nilai mata uang. Dimana penyebab currency war adalah Dollar. The Fed (Bank Amerika Serikat) memiliki kewenangan untuk mencetak uang secara bebas. Amerika juga tidak terkena dampak inflasi karena Amerika yang menularkan inflasi itu sendiri. Kemudian timbullah kapitalisme dimana semua orang sangat individualistis demi mengejar kekayaannya. Sistem ini juga hampir digunakan oleh seluruh negara di Dunia. Bahaya dari currency war tentu akan berdampak pada kemiskinan, pendidikan yang menjadi ladang bisnis, dan kesenjangan sosial untuk itu salah satu solusinya adalah Ekonomi Islam. Sistem perkonomian yang mengacu pada Al-qur’an dan As-sunnah diaman surga menjadi tujuan utama.

Pembicara kedua yaitu M. Bifa Rizky menjelaskan tentang tujuan dan pengertian dari ekonomi Islam. Allah telah menciptakan sistem ekonomi dengan sempurna dimana tujuannya yaitu falah (kemuliaan), dunia dan akhirat, serta penyeimbang antara materi dan spiritual. Ekonomi Islam sudah tidak ada unsur riba. Riba adalah uang haram karena mengambil tambahan yang bukan haknya.

Pembicara ketiga yaitu Eko Aji Saputra menjelaskan mengenai landasan dan rancang bangun Ekonomi Syariah. Landasan hukum ekonomi syariah adalah Al-qur’an dan As-sunnah. Mengapa demikian karena ibaratkan suatu produk ciptaan Allah yaitu manusia. Apabila kita diberikan suatu produk namun tidak ada pedomannya tentu kita tidak bisa menggunakan produk tersebut. Dasar Universal Ekonomi Islam adalah tauhid (murni bahwa Allah Maha Esa), keadilan (keduanya sama-sama senang dan sesuai porsinya), khilafah (pemerintah harus paham ekonomi Islam), dan maslahat (bertujuan untuk mensejahterahkan ummat).

Pembicara keempat yaitu M. Nadlir Abdul jabbar. Menjelaskan tentang maqashid syariah. 5 dasar maqashid syariah adalah agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jiwa yang sehat tentu akan timbul iman yang kuat. Akal diperlukan untuk mengetahui pengetahuan umum secara jelas dan tidak akan tersesat, keturunan diperlukan karena untuk meneruskan jalan dakwah hingga generasi mendatang. Harta jika tidak ada, pasti sulit untuk menjalankan dakwah seperti naik haji, membeli hewan qurban, dan lain-lain. Tingkatan dalam maqashid syariah ada 3, yaitu Dharuriyat (primer/penting dan harus dijalankan), Haruriyat (ada jalan lain jika hal itu tidak bisa dilakukan), dan Tahsiniyat (Pelengkap).

Pemberian Plakat oleh ketua SEF kepada pemateri

Pembicara kelima yaitu M. Romy Aztamara Azis membandingkan antara Syariah dengan konvensional. Ekonomi Syariah tidak hanya memikirkan dunia namun juga akhirat karena produknya halal serta mengedepankan kesejahteraan berbeda dengan ekonomi konvensioanal yang produknya belum jelas halal dan haramnya berprinsip untuk menambah kekayaan sehinga timbul kesenjangan. Fakta ekonomi syariah bahwa di Jerman terdapat cabang Bank Islam Turki dimana di negara tersebut minoritas muslim. Hal ini sangat memberikan gambaran bahwa prospek Indonesia dengan 90% mayoritas muslim sangat berpeluang untuk memajukan Bank Syariah. Prospek Sumber Daya Manusia (SDM) sampai saat ini masih dibutuhkan hingga lebih dari 150.000 karyawan. Ia menutup pemaparan materinya dengan firman Allah.

“Barang siapa yang menolong (agama) Allah. Niscaya Ia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“ (Q.S. Muhammad:7)

(Laporan: Annisa Lestari dan Tika Intan Saputri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: