• Link Registrasi

  • Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.

“Diskusi Bulanan Aktualisasi Ekonomi Syariah : Islamic Banking”

Aktualisasi ekonomi syariah, Islamic BankingSharia Economic Forum Universitas Gunadarama (SEF UG), pada hari sabtu 8 november 2014 menyelenggarakan diskusi bulananan aktualisasi ekonomi syariah (Aksyar)yang ke-2. Acara bertempat di ruang D414, Universitas Gunadarma, Depok. Acara diskusi bulanan ini selain dihadiri oleh mahasiswa gunadarma sendiri, dihidari juga oleh mahasiswa universitas lainnya.

Diskusi bulanan dimulai pukul 13.00 WIB, dengan bertemakan IB atau Islamic Banking. Acara ini dimoderatori oleh Aristiyana Dewi dan pengisi materi oleh Fauziah, Siti Jamilah, Iren Karina, dan Annisa Lestari.

Pemateri pertama, Fauziah memaparkan pengertian mengenai Islamic Banking. Kenapa harus Islamic Banking? Karena Islam is the way of life, bersifat universal dan komprehensif atau Islam juga sebagai comprehensif way of life. Allah SWT berfirman dalam ayatnya

“…untuk tiap – tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang…”

(Q.S. Al-Maidah: 48)

telah sangat jelas apa yang Allah sampaikan bahwa Islam adalah jalan terang yang telah diberikan kepada kita. Lalu apa pengertian Islamic Banking sendiri? Berdasarkan UU RI NO. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Jadi Bank syariah merupakan bank yang beroperasi berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah, yakni tata cara beroperasinya mengacu pada aturan Al-Quran dan Hadits. Islamic banking atau yang sering disebut dengan Bank Syariah memiliki 8 karakteristik yaitu universal, adil, transparan, seimbang, variatif, fasilitas dan maslahat. Bentuk usaha perbankan syariah di bagi menjadi 3, ada Bentuk usaha umum (BUS) Bank syariah yang berdiri sendiri atau bukan bagian dari Unit Usaha Syariah Bank Umum Konvensional. Yang ke-2 Unit Usaha Syariah (UUS) Unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah. Dan yang terakhir Office Chaneling Cabang Bank konvensional yang membuka layanan Syariah. Fungsi bank syariah sendiri di bagi menjadi dua ada fungsi komersial dan fungsi sosial, dimana kedua fungsi tersebut akan menghasilkan kesejahteraan masyarakat.

Pembicara kedua, Siti Jamilah memaparkan materi mengenai Bank Syariah VS Bank Konvensional, Bagi Hasil VS Bunga. Perbedaan Bank Syariah dan Konvensioanl bisa di lihat dari segi landasan hukumnya sendiri. Bila di Bank Syariah landasan hukumnya adalah Al-Qur’an & as Sunnah + Hukum positif, bila di Bank Konvensional hanya hukum positif saja. Di tinjau lagi dari segi aspek sektor investasi, Bank Syariah meng-investasikan dananya disektor yang halal, sedangkan bank konvensional tidak menyortir haram atau halal yang terpenting profit. Tujuan Bank Syariah ialah Profit dan falah oriented seimbang antara dunia dan akhirat, namun Bank Konvensoinal hanya berorientaskan profit saja. Pada Bank Syariah terdapat pengawas dewan syariah yang setara dengan dewan direksi, fungsinya adalah mengawasi jalannya bank syariah, apakah bank masih dalam koridor ke syari’at-an atau sudah melenceng, tapi di bank konvensional tidak ada yang namanya dewan pengawas syariah. Hal terpenting dalam perbedaan Bank syariah dan Bank Konvensional adalah Bagi Hasil dan Bunga. Mengapa Bunga dipermasalahkan? Apakah Bunga itu haram? Para ulama sepakat bahwa Bunga sama dengan Riba, kenapa? Karena Bunga muncul sendiri direkening kita tanpa kita melakukan suatu usaha. Secara bahasa Riba bermakna “tambahan”. Sementara secara istilah riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli atau pinjam-meminjam dari harta pokok atau modal dengan cara yang batil atau tidak dibenarkan. Dosa memakan harta riba sangatlah keji, riba termasuk 7 golongan dosa besar dan dosa terbesar kedua setelah syirik. Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda, “ Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan); yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.”. nauzubilahimindzalik. Lalu apa pengertian Bagi Hasil? Bagi Hasil merupakan sistem dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha, keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai “nisbah” yang disepakati sebelumnya. Perbedaan yang sederhana antara Bunga dan Bagi Hasil adalah bila bunga dibuat pada saat perjanjian dengan asumsi harus selalu untung jika Bagi Hasil dibuat pada saat akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. Bila Bunga, jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat, sedangkan jika Bagi Hasil, jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.

Pembicara ke tiga, Iren Karina menjelaskan materi mengenai Prinsip dan Produk Perbankan Syariah. Didalam prinsip perbankan syariah ada yang namanya tabarru dan tijari. Tabarru sendiri adalah tolong menolong dan tijari adalah profit oriented. Produk di dalam tabarru ada Wakalah, Kafalah, Hawalah, Rahn, Qardh dan dalam tijari ada Murabahah, Mudharabah, Musyarakah, Salam, Istishna, dan Ijarah. Bank syariah sendiri memiliki 3 kegiatan atau aktifitas yang pertama adalah penghimpunan dana (funding), penghimpunan ini bisa didapatkan dengan tabungan dan deposito para nasabah dengan akad wadi’ah atau mudharabah. Yang kedua kegiatan penyaluran (landing), bank menyalurkan danannya dalam bentuk murabahah, istishna, salam, musyarakah, dan ijarah. Kegiatan Bank syariah yang ke-3 adalah jasa keuangan, ini meliputi wakalah, kafalah, hawalah, rahn, dan qardh.

Setelah mengetahui Islamic Bank, perbedaannnya dengan Bank konvensoinal, dan kegiatan Bank syariah itu seperti apa, pemateri ke-empat atau yang terakhir Annisa Lestari menjelaskan mekanisme dan sistem operasional Bank syariah. Contoh mekanisme murabahah, Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. Bank menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya pembelian dilakukan secara hutang. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam hal ini, bank harus memberitahukan secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.

Saat ditetapkannya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan berdasarkan prinsip bagi hasil. Berdirilah Bank Muamalat dan mulai beroperasi tepatnya 1 Mei 1992 dengan modal awal sebesar Rp 106.126.382.000. Krisis moneter pada tahun 1998 dan tahun 2008 telah membuktikan eksistensi perbankan syariah yang tetap stabil meski pergoncangan keuangan diluar begitu mengkhawatirkan. Kinerja pertumbuhan pembiayaan bank syariah pun setiap tahun terus meningkat. Saat ini Bank umum syariah di indonesia ada 12, usaha unit syariah ada 23 dan badan perkreditan rakyat syariah (BPRS) kurang lebih ada 160. Pertumbuhan Perbankan Syariah sampai dengan April 2014 tercatat sebesar 17,5 persen, laju pertumbuhan tersebut jauh di atas rata-rata pertumbuhan aset perbankan nasional yang hanya sebesar 16,3 persen per tahun.

(Laporan: Nopi Duwi Hariyanti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: