• Link Registrasi

  • Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.

Acara Terbaru SEF UG “Sharing Skripsi Syariah”

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma menyelenggarakan program terbarunya yang bernama 3S (Sharing Skripsi Syariah) yang bertujuan untuk memperluas kajian khasanah Ekonomi Syariah khususnya mahasiswa/i Universitas Gunadarma.

Aksyar 1

IMG_1134Sharing 3S pertama dibawakan oleh Risa Septiani, Nida Nusaibatul Adawwiyah, dan  Nur Azifah yang berlangsung pada Selasa (30/11) di D461 dengan mengambil judul “Analisis Pengaruh Pemahaman Dan Penerapan Ekonomi Syariah Oleh Sumber Daya Insani Dan Nasabah Serta Komitmen Lembaga Keuangan Syariah Terhadap Kinerja Profitabilitas Dan Kolektifitas Pada Lembaga Keuangan Syariah Di Wilayah Depok”. Dalam acara tersebut hadir stakeholder SEF, mahasiswa/i UG baik dari Depok, Kalimalang, dan Salemba, juga dari mahasiswa/i di luar UG yaitu Universitas Az-Zahra, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Indonesia.

Menurut ketiga pembicara analisis pengaruh pemahaman dan penerapan ekonomi syariah” dilatarbelakangi oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) mengalami perkembangan yang sangat pesat saat ini dan Indonesia sebagai salah satu referensi utama pengembangan Islamic Microfinance dunia.

Dalam penjelasan pemaparan insani dan manusia, sebenarnya memiliki arti yang sama, dimana insani kamil adalah mukmin yang dalam dirinya terdapat kekuatan wawasan, perbuatan, dan kebijaksanaan. Amanah yang dipegang SDI selain meningkatkan produktivitas karyawan untuk mencapai laba perusahaan  adalah juga mengantarkan para karyawan melalui pekerjaannya menuju pada derajat insani kamil yang di ridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan pengelolaan SDI secara Islam, maka Insya Allah akan dapat melaksanakan amanah ini.

            Ada beberapa akad yang diterapkan dalam LKS, diantaranya Musyarakah, Murabahah, Ijarah, dan Isthisna’. Akad merupakan mengikat kedua belah pihak yang saling bersepakat, yakni masing-masing pihak terikat untuk melaksanakan kewajiban mereka masing-masing yang telah disepakati terlebih dahulu, terms dan condition-nya sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik (sudah well-defined), bila kewajiban tidak dapat dipenuhi, maka sanksi yang diterima sesuai dengan kesepakatan awal kontrak.

Mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (malik, shahib al mal, lembaga keuangan syariah) menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua (‘amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak (Fatwa DSN No.07/DSN –MUI/IV/2000).

Musyarakah adalah pembiayaan berdasarkan kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. (Fatwah DSN No.08/DSN-MUI/IV/2000).

Murabahah adalah Murabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. (Fatwa DSN No.04/DSN-MUI/I/2000).

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat ) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri, dengan demikian dalam akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan, tetapi hanya pemindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa. (Fatwa DSN No.09/DSN/MUI/IV/2000).

Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan Kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/ mustashni’) dan penjual (pembuat/shani’)­- (Fatwa DSN No.06/DSN-MUI/IV/2000).

Aksyar 2

Pembicara 3S ke-2Sharing 3S kedua dibawakan oleh Muhamad Rizky Rizaldy yang berlangsung pada Selasa (24/12) di D414 dengan mengambil judul “Menigkatkan Daya Tarik Investasi Saham Syariah Pada Persaingan Global Melalui Diversifiksi Internasional”.

Menurut Pembicara, Muhamad Rizky Rizaldy daya tarik pada investasi saham syariah dilatarbelakangi oleh Islamic Finance Booming yang berimplikasi pada berkembangnya pasar modal syariah, banyaknya negara yang menawarkan diri sebagai tujuan investasi syariah dengan penerbitan indeks saham, terjaminnya kehalalan, dan optimalisasi melalui diversifikasi.

            Konsep Pasar Modal Syariah bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dalam peraturan produkya diatur dengan Fatwa DSN No: 40/DSN-MUI/X/2003 yang menjelaskan tentang segala jenis efek yang lolos kriteria syariah secara kualitatif dan kuantitatif, masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan secara periodik oleh BAPEPAM-LK (Sekarang OJK) dan transaksinya diatur dengan Fatwa DSN No: 80/DSN-MUI/III/2011 yang menjelaskan tentang transaksi yang dilarang dalam investasi syariah diantaranya mengandung unsur tadlis, taghrir, najsy, ikhtikar, ghisysy, ghabn ghisysy, ghabn fahisy, ba’I al-madum, dan riba.

            Resiko investasi yang terdapat pada investasi saham syariah di bagi menjadi dua, diantaranya, resiko tidak sistematis dan resiko tidak sistematis. Resiko sistematis yaitu resiko yang bisa dihilangkan melalui diversifikasi. Resiko ini merupakan resiko yang terkait dengan kondisi khas dari tiap konstituen sedangkan resiko yang akan tetap ada walaupun diversifikasi telah dilakukan seoptimal mungkin. Mekanisme diversifikasi di dapat dari kombinasi beberapa sekuritas dalam investasi. Diversifikasi dilakukan untuk mengurangi resiko yang harus ditanggung investor.

            Dalam penelitiannya, Muhamad Rizky Rizaldy mengambil data dan sampel DJIM yang merupakan indeks saham gabungan yang menjadi benchmark pertama dan utama dalam mengukur kinerja portofolio saham syariah global dibandingkan dengan indeks saham syariah lainnya seperti S&P Shariah Indices, FTSE, Islamic Indices, dan MSCI Islamic Indices. DJIIM terdapat di 12 negara yang indeks saham syariahnya di sajikan secara individual, diantaranya: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Turki, Kuwait, UEA, India, Sri Lanka, Cina, Malaysia, Indonesia, dan Jepang.

            Implikasi pada penelitian ini bermula di investor yang menggabungkan negara-negara tersebut ke dalam sebuah portofolio dengan porsi yang disarankan dapat meningkatkan return dan memperkecil resiko investasi saham syariah. Dalam negara konstituen, kemudahan memperoleh informasi mengenai kondisi pasar saham syariah dalam negeri melalui situs-situs popular memberikan dampak terhadap prilaku investor global dalam pengambilan keputusan investasi. Dan pada peilitian memberikan peluang yang sangat luas untuk melakukan penelitian lanjutan terkait pasar saham syariah global.

(Laporan: Puti Rahmadhani Ambun Suri,
Novia Mandalasari, dan
Foni Hamdilla)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: