• Link Registrasi

  • Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.

Sharia Economic Forum Mengikuti Seminar Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Imtaq Menuju Indonesia yang Maju, Adil-Makmur, Berdaulat, dan Diridhai Allah SWT

IMG-20140103-WA0009Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Imtaq Menuju Indonesia yang Maju, Adil-Makmur, Berdaulat, dan Diridhai Allah SWT

Pada hari Jum’at, 13 Desember 2013, Perwakilan Sharia Economic Forum Univ. Gunadarma yaitu Desi Oktafiani, Sarah Syahriani, Aqmarin Meiliza, Dea Annisa Miranti, Asep Rizal Muldiansyah, Ashabul Kahfi, Heru Prasetyo, Khairul Adianto dan Santoso Permadi mengikuti seminar bertajuk “Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Imtaq Menuju Indonesia yang Maju, Adil-Makmur, Berdaulat, dan Diridhai Allah SWT.” Di Universitas Islam Negeri (UIN Syarif Hidayatullah).

Seminar ini disampaikan oleh dua orang pembicara, yaitu: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. dan Witjaksono. Pembicara pertama merupakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB serta pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan RI pada tahun 2001 sampai 2004.Sedangkan pembicara kedua adalah seorang entrepreneur muda yang sudah memiliki beberapa perusahaan dan kini memiliki sebuah program untuk melahirkan entrepreneur muda selanjutnya. Sebelumnya mari kita lihat resume materi yang disampaikan oleh Bapak Rokhmin Dahuri, MS.

Masalah bangsa kita saat ini

Bapak Rokhim menyampaikan bahwa Indonesia tercinta ini terlihat begitu memilukan dengan berbagai masalah seperti pengangguran, kemiskinan, kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin, disparitas wilayah dan lain-lain.Padahal pertumbuhan ekonomi kita menempati posisi tertinggi kedua pada pertumbuhan ekonomi dunia setelah China.Belum lagi, pada tahun 2011, Indonesia masuk ke dalam list investment grade. Tidak hanya itu, PDB kita pun menempati urutan ke-16 di dunia! Fakta-fakta yang membanggakan tersebut sayangnya tidak seperti kelihatannya. Karena prestasi pertumbuhan ekonomi kita sebesar 6,3% tidak sejalan dengan makro ekonominya. Ada GAP yang tinggi dan besar antara sector riil dan sector moneter.Beliau menyampaikan bahwa sebabnya adalah sistem yang kita anut merupakan sistem kapitalisme.Sudah jelas kita ketahui bahwa sistem tersebut memiliki cacat bawaan.Cacat sejak awal dan kita berkiblat pada mereka.Pada bangsa-bangsa yang sekarang ini tengah kolaps, sebut saja eropa, amerika, dan sebagainya.Untuk itu, kita harus menjadi bangsa yang dapat bertahan.Selain kembali pada sistem ekonomi pancasila ataupun ekonomi syariah, kita juga harus menjadi bangsa yang berinovasi kuat.

Kita harusnya menyadari bahwa bangsa ini memiliki potensi pembangunan yang jauh lebih besar dari bangsa lainnya.Bisa kita lihat, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan memiliki potensi yang jauh lebih kecil namun sudah lebih maju, makmur dan mandiri ketimbang Indonesia. Namun, potensi-potensi Indonesia tersebut seakan tenggelam bersama masalah-masalah ekonomi Indonesia saat ini. Perlu kita ketahui, koefisien gini Indonesia saat ini berada pada nilai indeks 0,42. Dimana patokan standar untuk Indonesia adalah 0,35. Semakin nilai koefisien tersebut mendekati 1, berarti kesenjangan yang terjadi cukup signifikan.Beliau memperlihatkan sebuah fakta dalam majalah FOX bahwa 10 orang kaya didunia sama jumlahnya dengan 60 juta orang miskin. Jika kita lihat di Indonesia, kemiskinan kita berjumlah sekitar 50% dengan standar world bank $2 per hari. Bagaimana tidak? Jika acuan kita merupakan dollar yang saat ini tengah menembus angka Rp 12.100, maka nilai $2 per hari akan meningkatkan persentase jumlah orang miskin di Indonesia. Tidak hanya itu, disparitas wilayah pun terjadi karena didominasi wilayah Jawa sebesar 58%, Sumatera 24%, dan 18% tersebar di wilayah lainnya. Begitu pula dengan kesenjangan ekonomi karena ketidakmerataan investasi di setiap wilayah, daerah investasi hanya didominasi oleh Pulau Jawa 71% dan Riau 29%.Tidak hanya itu, pada tahun 2012, 36% anak balita menderita gizi kronis dan Indonesia menempati posisi ketujuh penderita diabetes.Fakta lainnya, kekayaan migas kita pun tidak memberikan manfaat yang besar seperti Pertamina, kita hanya memiliki 16% saja.

Tantangan Bangsa Indonesia

Inilah permasalahan dan tantangan pembangunan Indonesia, penyebab ketertinggalan Indonesia salah satunya adalah karena pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi namun kurang berkualitas dan tidak inklusif.Pertumbuhan ekonomi pada dekade terakhir sebagian besar dihasilkan oleh sektor moneter dan sektor riil non-tradable yang hanya sedikit sekali menyerap tenaga kerja.Pembangunan sektor riil non-tradable ini adalah pembangunan berupa konstruksi, angkutan, pasar swalayan/malls, dan hiburan yang hanya dibangun di kota – kota besar dan Pulau Jawa serta dinikmati masyarakat menengah ke atas. Sedangkan sektor ekonomi riil trradble seperti kelautan, perikanan, pertanian, kehutanan ESDM, pariwisata dan industry manufakturing justru tumbuh sangat lambat. Penyerapan tenaga kerja pun jauh lebih besar sektor ekonomi tradable yaitu 400.000 per 1% dari sektor ekonomi riil non-tradable yang hanya dapat menyerap 100.000 per 1% pertumbuhan ekonomi (Bappenas,2008).

Tantangan serius lainnya adalah deficit neraca perdagangan dimana nilai impor kita lebih besar dari nilai ekspor pada awal tahun ini.Sejak diberlakukannya reziim perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN surplus kita mulai menyusut dan akhirnya negative pada akhir tahun 2012.Tanpa dibarengi dengan peningkatan daya saing ekonomi yang tinggi, perbaikan infrastruktur, moral, kemudahan proses perizinan akan menyebabkan kita memiliki daya saing yang negative dan kalah saing.

Selain itu, kita perlu mengurangi ketergantungan kita terhadap sejumlah produk impor dan produk bernilai tambah tinggi. Perlu kita sadari bahwa ketergantungan tersebut tidak hanya menghamburkan devisa namun juga membuat banyak produsen dalam negeri memangkas volume produksinya hingga mem-PHK karyawan.Jika sudah begini, maka pengangguran dan kemiskinan tidak dapat terhindarkan. Akibatnya status gizi anak-anak yang akan  menjadi generasi selanjutnya pun memburuk. Artinya, kita akan meninggalkan generasi-generasi yang lemah fisik dan kurang cerdas. Kondisi semacam ini  akan melemahkan bangsa dalam menguasai dan menerapkan IPTEK yang kemudian berdampak pada rendahnya produktivitas Indonesia. Apabila produktivitas ini dibiarkan rendah dan kita masih saja dalam negara berpendapatan rendah, kita tidak akan bisa menuju menjadi bangsa yang maju dan makmur. Prasyarat untuk menuju bangsa yang maju dan makmur adalah kita dapat mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7-9 persen per tahun selama periode 2013-2025.

Tantangan lainnya adalah rentannya kedaulatan (ketahanan dan kemandirian) pangan dan energy nasional.Hal tersebut dapat kita lihat bahwa Indonesia menjadi salah satu bangsa pengimpor bahan-bahan pangan terbesar di dunia.Padahal kita memiliki potensi yang besar dan beragam.

Tidak hanya itu, kurangnya kualitas dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan oleh dominasi kepemilikan asing pada sektor-sektor ekonomi strategis.Hal ini akibat dari kebijakan pemerintah dan BI yang membolehkan kepemilikan asing sampai 99 persen serta keleluasaan bank dengan saham mayoritas asing untuk dpaat beroperasi hingga ke daerah-daerah pedesaan.

Sepertinya memang benar high risk high return. Inilah yang menurut saya merupakan tantangan bangsa ini, sumber daya  alam berlimpah yang jika dikelola dengan baik tentu akan menghasilkan hasil yang tentunya lebih banyak. Namun, memang memiliki resiko yang tinggi, bisa saja sumber daya alam kita dikelola negara lain atau justru perlahan kita akan melihat resiko sumber daya alam yang tidak akan terkelola dengan baik.

Pemuda Sebagai Penggerak Ekonomi Islam di Indonesia

Pembicara kedua yang akan menyampaikan hal menarik ini adalah Witjaksono. Seorang entrepereneur muda yang memulai kariernya  pada tahun 2004 berbekal ijazah lulusan Universitas Negeri di Kota Semarang, Universitas Diponegoro.Ia bermigrasi dari Semarang ke Jakarta dengan modal tekad dan semangat menjadi seorang pengusaha.

Ia sudah memiliki beberapa perusahaan terbuka, beberapa diantaranya akan listing. Ia menyampaikan bahwa ia ingin menciptakan ribuan entrepreneur muda di Indonesia. Idenya tersebut dilatar belakangi oleh minimnya jumlah pengusaha yang ada di Indonesia.Jumlah minimum pengusaha untuk sebuah negara maju adalah sebesar 5%. Hal ini sudah dibuktikan oleh negara – negara seperti Singapura sebesar 7,2%, Jepang 10%, dan lain – lain. Sedangkan negara kita baru sebesar 1,6%. Ini merupakan rasio entrepreneur terhadap masalah jumlah penduduk. Fakta lainnya membuktikan bahwa 0,8% dari jumlah pengusaha kita berusia di bawah 40 tahun. Sayangnya, pengusaha muslim di dalamnya kurang dari 0,05%. Padahal dengan penduduk 250juta jiwa yang 80%nya penduduk muslim, harusnya kita dapat mencapai target minimal 5% untuk total pengusaha.

Ada beberapa alasan yang ia kemukakan mengenai minimnya pengusaha di Indonesia, yaitu faktor budaya. Dimana, budaya yang ditandai dengan nyamannya menjadi pegawai yang notabene bergaji aman perbulan dan lumayan besar, membuat banyak dari masyarakat kita enggan berpindah kuadran.Faktor yang kedua yaitu pendidikan, banyak dari lulusan sekolah hingga universitas yang tidak jarang justru mendidik anak didiknya untuk menjadi seorang pekerja, atau professional.Faktor terakhir yaitu orang tua.Faktor yang merupakan ruang lingkup paling dekat dengan diri kita ini ternyata berpengaruh besar karena berkaitan langsung dengan pola asuh orang tua.

Kita perlu menyikapi umur – umur dengan usia produktif untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Sayangnya, terkadang waktu luang anak tidak terpantau dengan baik. Ada beberapa dampak dari hal tersebut, yaitu tawuran pelajar dimana pelakunya merupakan anak – anak terpelajar dan terdidik, sekitar 4 juta remaja terlibat narkoba, sisanya terlibat kasus hamil di luar nikah. Padahal umur 15 – 25 tahun merupakan teenspreneur era. Begitu ia menyebutnya. Umur produktif tersebut dapat menghantarkan jiwa – jiwa muda menuju pembelajaran yang berharga dan menjadi orang yang produktif di waktu luang.

Oleh karena itu, ia memiliki program bernama jejak witjak yang insyaaAllah akan segera diliris. Program ini merupakan hasil besutannya dengan beberapa rekan seperti Tampo sebagai motivator, Dwiki sebagai budayawan dan Witjak sebagai entrepreneur. Collaborating harmony yang ia ciptakan bertujuan untuk menghasilkan 1000 enterpreneur muda. Ada beberapa step dalam program tersebut hingga akhirnya akan dipilih beberapa usaha yang akan dimodali penuh dan dibimbing kembali hingga sukses.

Acara di UIN Syarif Hidayatullah ini diakhiri dengan hiburan berupa penampilan marawis qori dan qori’ah dari HIMA UIN Syarif Hidayatullah yang membawakan dua tembang shalawat dan penampilan akustik dengan dua lagu modern. (Dea)

Satu Tanggapan

  1. belajar menjadi enterpreneur merupakan suatu keharusan yg harus kita jalani, jangan merasa nyaman di Zona nyamanmu kawan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: