• Video SEF

  • SEF adalah komunitas ilmiah mahasiswa UG dengan minat ekonomi syariah, di bawah naungan BEM FE Universitas Gunadarma bimbingan Bpk. Budi Prijanto, SE., MMSI.


  • Arsip

LAPORAN KEGIATAN : Sharia Economic Forum menghadiri Halal Bihalal bersama Asosiasi dan seluruh Pegiat Ekonomi Syariah Nasional

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma (SEF UG) yang diwakili oleh Khairul Adianto (Ketua SEF) dan Eko Wayandi (Staff SDM SEF) menghadiri acara Halal Bihalal bersama Asosiasi dan seluruh Pegiat Ekonomi Syariah Nasional yang bertempat di Ballroom Dhanapala, Kementerian Keuangan RI. Acara Nasional ini berlangsung dari pukul 19.00 – 22.30 WIB dan terlaksana atas kerjasama IAEI, MES, ASBISINDO, dan PKES.

Pembukaan

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan secara resmi dibuka oleh Prof. Bambang Brodjonegoro selaku ketua umum IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam). Tidak banyak yang bisa saya catat dari beliau, dalam sambutan tersebut beliau berusaha menyadarkan audiens bahwa begitu banyak yang mesti dibenahi oleh setiap elemen ekonomi syariah di Indonesia agar timbul kemauan yang kuat dari masyarakat untuk berekonomi secara syar’i. Oleh karena itu, maka perlu adanya sinergi diantara pegiat ekonomi syariah.Sambutan Asosiasi

Walaupun dalam agenda disebutkan sambutan oleh para ketua asosiasi ekonomi syariah, tapi setiap pimpinan asosiasi tersebut memaparkan gagasan serta laporan mengenai perkembangan perekonomian syariah terkait asosiasi yang dipimpinnya. Inilah yang menjadi inti dalam tulisan saya kali ini, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia terkini dari sisi pengambil kebijakan. Berikut beberapa point penting yang berhasil saya catat :

Yuslam Fauzi ( Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia & Direktur Utama Bank Syariah Mandiri )

Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi dalam keuangan syariah di Indonesia, pada tahun 2010 hingga 2011 FDR bank syariah di Indonesia mencapai 100,86%. Hal ini menunjukkan tingginya peran perbankan syariah dalam roda perekonomian Indonesia dan jika dilihat dari sisi keuangan mikro dana nasabah yang tersalurkan pada sektor riil khususnya UKM mencapai 72%, angka ini diharapkan berbanding lurus dengan percepatan tercapainya maqasid syariah bagi umat Islam di Indonesia, tercapainya kemapanan finansial dan terjaganya harta mereka dari yang haram.

Perbankan syariah diharapkan menjadi akselerator ekonomi syariah dalam rangka pencapaian pembangunan nasional sesuai dengan amanah Undang-Undang. Ekspektasi ini akan dapat dicapai jika perbankan syariah mampu tumbuh secara sustain (berkelanjutan) dengan lebih cepat jika iklim competitor advantage mampu dipertahankan serta tidak menjadikan sektor keuangan syariah sebagi momentum sesaat atas nama trend dan profit bagi perbankan di Indonesia.

Sebagai competitor advantage dalam lembaga keuangan, perbankan syariah harus jadi yang terbaik serta dukungan dari regulator yang menguatkan. Banyak hambatan yang dihadapi perbankan syariah di Indonesia, salah satu hambatan terbesarnya adalah kurangnya SDI (Sumber Daya Insani) yang paham konsep ekonomi syariah, dalam hal ini yang dimaksud sebagai SDI adalah lulusan perguruan tinggi. Saat ini kita minus 5000 SDI tiap tahunnya dari sekitar 8500 SDI yang dibutuhkan, hanya 3500 SDI yang mampu dicetak perguruan tinggi/tahun. Mahasiswa sudah selayaknya berperan aktif dalam perkembangan ekonomi syariah meskipun infrastruktur yang ada saat ini belum memadai karena tumbuh kembangnya ekonomi syariah begitu bergantung pada SDI yang kompeten dibidangnya.

Prof. Dr. Halim Alamsyah (Ketua PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah) & Deputi Gubernur BI))

Dalam sambutannya, beliau menekankan pada tantangan yang dihadapi oleh regulator di Bank Indonesia. Selaras dengan pemaparan bapak Yuslam Fauzi, beliau juga menjadikan ketersedian SDI sebagai masalah pokok yang dihadapi keuangan syariah di Indonesia saat ini. Beliau menambahkan bahwa sektor keuangan syariah memperhatikan faktor pelayanan jasa perlu ditingkatkan agar mencapai akar rumput sehingga manfaat ekonomi syariah bisa dirasakan oleh setiap elemen masyarakat Indonesia.

Trend perbankan syariah yang sempat turun pada pertengan tahun ini membuat pihak regulator harus berpikir keras untuk mengambil kebijakan inklusif sekaligus penetrasi industri keuangan syariah ditambah lagi pembelian sukuk Negara ke perbankan syariah yang tidak begitu menggembirakan. Jika kita tengok negara tetangga, saat ini market share Malaysia 22% begitu timpang dengan market share perbankan syariah di Indonesia yang hanya 4% tahun ini. Oleh sebab itu, pihak regulator berharap perbankan syariah dapat berkomitmen untuk lebih terstruktur dan lebih terarah.

Demi berjalannya tujuan PKES yaitu sosialisasi, edukasi, dan komunikasi segala hal yang berkaitan dengan ekonomi syariah, saat ini PKES sedang mencanangkan adanya forum yang dapat menjembatani pihak regulator, praktisi, serta masyarakat yang nantinya akan bernama Forum Komunikasi dan Advokasi (Forkasi) ekonomi syariah di Indonesia, semoga gagasan ini dapat menjadi solusi terhambatnya laju pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Dr. Muliaman D. Hadad (Ketua OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah))

Sebagai organisasi ekonomi syariah terbesar di dunia, MES memiliki peran yang signifikan untuk mendukung terciptanya sinergi keuangan syariah. Menurut beliau, sinergi yang tercipta berupa sharia incorporate yang terakselerasi. Sebagai pimpinan OJK beliau memaparkan grand design-nya demi terciptanya pembinaan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia yang salah satu goal utamanya adalah adanya siklus yang berkelanjutan antara perbankan syariah, koperasi, dan akademisi. Fungsi OJK tidak hanya terkonsentrasi pada perbankan syariah, tapi mencakup pengawasan lembaga keuangan syariah secara utuh.

Dr. Muliaman D. Hadad menekankan kepada audiens bahwa masyarakat saat ini sangat menunggu kehadiran Islamic microfinance yang kredibel dan mudah diakses yang pada akhirnya akan membangun semangat inklusif bagi masyarakat untuk menggunakan fasilitas yang disediakan oleh lembaga keuangan syariah Indonesia. Diakhir sambutannya beliau menyampaikan gagasannya terkait dengan tema acara kali ini, menurut beliau sinergi dalam perekonomian syariah berarti adanya business model yang melibatkan cross border lembaga ekonomi syariah yang terintegrasi yang merupakan konsentrasi kita bersama saat ini.

Momen yang dinantikan pun tiba…
Mendengarkan secara langsung pidato pak menteri, berikut beberapa point penting dari pidato beliau.

Agus Martowardojo (Menteri Keuangan Republik Indonesia)

Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi demografis untuk menjadi Negara yang dewasa secara ekonomi. Beliau menyebut hal ini sebagai “bonus demografi”, erat kaitannya dengan besarnya jumlah usia produktif. Namun, hal ini tidak serta merta menjadikan ekonomi Indonesia maju. Kualitas SDM Indonesia masih sangat rendah yang belum mampu bersaing secara global, bisa kita lihat dari keterwakilan professional kita di dunia internasional. Sebagai contoh, pada World Bank yang memiliki 1000 orang pegawai hanya 60 pegawai yang berasal dari Indonesia dan hanya 15 orang yang yang menempati posisi diatas junior manager. Terkait dengan contoh sebelumnya, ada lebih dari 6 juta WNI di luar negeri yang bekerja dilevel dasar, asisten rumah tangga dan sejenisnya.

Masalah kualitas SDM di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kualitas pendidikan yang ada saat ini. Meski anggaran pendidikan tahun 2013 yang telah disetujui naik 21 Triliun dari tahun 2012 yang sebesar 310 Triliun namun hal ini tidak menjamin naiknya mutu pendidikan dan lulusan perguruan tinggi Indonesia. Dalam hal SDM ekonomi syariah, Indonesia juga masih sangat jauh dari standar kompetensi yang dibutuhkan dunia saat ini. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan terpenuhinya kekurangan SDM dibidang keuangan syariah. Masih sekitar 13 tahun lagi Indonesia baru mampu dewasa secara ekonomi. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi amat besar dalam akselerasi pencapaian target tersebut.

Pertumbuhan Ekonomi

Secara makro, perekonomian Indonesia naik 0,1% pada kuartal ke-2 ini, dari pertumbuhan kuartal ke-1 sebesar 6.3%. Angka yang cukup menggembirakan ditengan resesi yang tengah dihadapi oleh Negara-negara lain yang pertumbuhannya minus. Salah satu faktor yang menjadi kunci trend positif perekonomia Indonesia adalah industry keuangan syariah yang sedang berkembang saat ini dimana dana tersalurkan ke sektor riil. Beliau menghimbau para stakeholders ekonomi syariah untuk bahu membahu serta bersinergi satu sama lain.
Terkait dengan dibentuknya OJK, maka lembaga yang efektif beroperasi pada 1 Januari 2013 mendatang diberi kewenangan untuk:
1. Konsolidasi dengan lembaga keuangan bank dan non bank.
2. Pemantauan dini krisis keuangan (kausa).
3. Transformasi sistem jaminan dan perlindungan sosial yang menyeluruh.
Sekali lagi menteri keuangan RI menekankan bahwa ekonomi syariah sangat mendukung perekonomian Indonesia dan berpesan agar regulator mampu memberikan pijakan yang kuat bagi industri keuangan syariah di Indonesia. Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh audiens untuk mempersempit gap antara kesempurnaan ajaran Islam dengan realita yang ada dimasyarakat, semoga ekonomi syariah mampu menjadi solusi terbaik bagi perekonomian bangsa.

Acara ditutup dengan penandatanganan MoU “Sinergi Untuk Akselerasi Menuju Indonesia yang Lebih Baik” oleh Asosiasi Ekonomi Syariah yang ada di Indonesia beserta Kementerian Keuangan RI.

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: